sunshine in the dark night

Juni 30, 2009 usasrain

r

rasa itu masih ada
Dan
Akan selalu ada
-meski hanya dalam kenangan-
EPISODE: BINTANG SENJA DI SAMUDRA
Gerimis mengiringi langkahnya yang terasa begitu angkuh. Kepalanya tegak seolah menantang langit. Sejenak dia menatap,pelupuk matanya tergenang airmata yang sebenarnya pantang untuk ia teteskan. Ia menegakkan kepalanya,melangkah meninggalkan sosok diiringi ratapan mata yang tak ia sadari.
……………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Dia berdiri, mememandang tanah di bawahnya yang merekah dicabik putaran massa bumi. Matanya teduh,tak berubah. Matahari memang tak pernah berubah. Matahari, begitulah aku menyebutnya. Bayangan masa lalu yang tak kunjung bisa ku hapus meski ragaku telah menjadi milik orang lain.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Dia pernah menjanjikan cahaya yang akan selalu ada dalam setiap helaan napas dan kedipan mata,meski aku bukan lagi dewi bintangnya,meski dia bukan lagi cahaya gemerlap di benakku.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
‘mengapa kita bertemu
Bila akhirnya dipisahkan
Mengapa kita berjumpa
Bila akhirnya dijauhkan

Kau bilang cintamu aku
Nyatanya bukan untuk aku
Bintang di langit nan indah
Kemanakah cinta yang dulu
Masihkah aku disana
direlung hati dan mimpimu?
Aku hancur
Ku terluka
Namun engkaulah napasku
Kau cintaku
Meski aku
Bukan di benakmu lagi
Dan ku beruntung sempat memilikimu
Engkau mengatakan merindukan diriku lagi
Ingin kukatakan
Ku tak hanya sekedar rindu
(sempat memiliki, yovie n the nuno)
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Dia benar-benar seperti angin….
Aku tahu kemana ia berhembus
Tapi aku tak pernah bisa mendekapnya
Walau hanya sejenak……..
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Matahari tak pernah melihat malam. Disini, malam tak pernah berbintang, terselubungi pekat asap nestapa dan air mata yang menguap. Kilatan cahaya di malam kelam yang benderang oleh kebisuan nurani, menyadarkan aku bahwa suatu saat matahai pasti akan kembali.
Matahari, mengapa angkasa mempertemukan kita.?Angkasa bukanlah jejak syair yang ku tulis. Kini aku terperangkap dan tak pernah bisa lepas dari jerat bayangmu yang terlalu kuat. Nuraniku tak lagi bisa menjelma,menulis bait kata kebebasan sang bintang. Bintang terperangkap dalan senja yang tak kunjung berakhir, tak pernah terlepas dari sang diwakara yang jadi cerita tak berkesudahan. Yang menjadi napas dari setiap karakter.
Penantianku tak akan ku akhiri. Aku percaya ramalan tentang surya dan usas yang tetap bersama dalam singgasana suci berbalut cahaya yang agung.
Angin,antarkan kisah ini padanya. Nuraniku hanya menjelma untuknya.

Senja kini masih memerah
Aku masih disini
Gerangan salahku apa wahai cahaya
Memaksaku melihatmu kembali
Dermagaku masih menunggu
Akankah kau berlabuh???
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..
Sebuah perjanjian dengan Tuhan telah membawaku ke tempat ini. Aku tahu Tuhan dengar doaku. Aku tahu Tuhan punya rencana,meski aku tak tahu rencana itu. Tuhan aku percaya padamu,Kau mengutusku ke tempat ini untuk cita juga cinta.
Perjanjian kita ku harap benar adanya.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Aku yang terbuai menanti datangnya sang takdir yang kunjung bisa ku harapkan. Aku tak percaya rasa itu sebelum matahari yang membawanya untukku. Aku memang bukan pemuja matahari, tapi aku selalu merindu kedatangannya. Rasa yang ia bawa ibarat tirta gangga yang dalam dahaga. Rasa itu yang membuat aku tetap berdiri dalam selaksa kegetiran, tetap bersenandung dalam hempasan badai yang mengoyak dunia. Rasa yang membuatku tetap tersenyum dalam hujan air mata tak berkesudahan.
Akulah insan yang mengobati dahaga dengan seluruh air samudra. Setiap teguk semakin menyiksa dahaga. Saat tetes terakhir air samudra mengalir dalam terowongan jiwa, rasa itu semain tak tertahankan. Dahaga yang memuncak membuatku sekarat menanti datangnya seteguk cahaya yang datang bersama hujan di bulan yang tak memuntahkan kisah.
Matahari, ragamu yang terlalu agung tersenyum kokoh dalam singgasana gemerlap. Tahukah dirimu, aku terperangkap di senja yang tak kunjung jadi malam. Aku tahu senja ini tak mungkin jadi siang,dimana diriku bisa melihat dirimu bertahta dalam nurani dunia. Senja yang memerah kian membakar diriku di samudra. Aku ingin kala cepat melepas kungkungan ini. Membiarkan duniaku segera berbalut misteri dalam malam yang kelam. Aku menanti datangnya malam itu.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Tuhan dengar pintaku. Kini langit merah perlahan jadi pekat. Aku menyongsong malam dalam kerinduan yang teramat sangat. Jiwaku menari di atas kesepian abadi, memuja senandung yang luruh bersama hilangnya cahaya di langit.
Terpesona akan kilatan cahaya di malam tanpa bintang, hatiku kembali memanggil matahari, kilatan cahaya tak mampu menepis aku masih berharap pada brahma diwa yang bertabur cahaya sang surya. Menepis gejolak yang kian membuncah. Mengingkari logika yang berkata kalau aku bisa menikmati malam tanpa cahaya. Aku tak bisa. Aku bukan makhluk yang terbiasa dengan misteri dan kabut pekat serta jerit nestapa yang tertahan. Aku hidup berbalut cahaya yang hangat. Begitulah kurasa hidupku ditakdirkan sejak tangis pertama di dunia
Matahari,pernahkah kau dengar lirih yang ku lantunkan saat kita dalam jarak tak berbatas? Apakah kau mengerti desahku yang tak henti menatap keping matamu? Pernahkah kau sadari tatapku yang selalu menyerukan namamu dalam setiap perjumpaan? Aku tak mau kau tahu dalam lantunan doa aku masih selalu memujamu? Dalam kegelapan ini aku masih berdoa untuk duniamu yang benderang. Mungkinkah kau hadir dalam pekatnya malam, bersinar untukku yang tak bisa hidup dalam kegelapan? Dunia mungkin tak akan berhenti berseru saat kau ubah malam pekat untukku. Saat kau ubah nakta jadi diwa. Akankah kau lakukan itu untukku matahari?

Ataukah aku akan kembali ke duniamu, pada siangmu yang benderang,atau pada pagimu yang hangat? Ijinkan aku kembali pada kala yang sempat ku tinggalkan. Akankah kita kembali bertahta bersama? Apakah dunia yang membuangku dalam pekat malam –atau malah dunia yang sengaja ku tinggalkan- membiarkan aku meneguk kembali cahayamu?
Matahari, di malam pekat yang menggigil, aku menanti datangnya suara darimu.

EPISODE: SENANDUNG MATAHARI
Diriku yang kini bertahta dalam gemerlap tak paham arti dunia tanpa diriku. Malam,aku tak tahu bagaimana rupanya. Sosoknya terlarang untuk ku jamah. Begitu kelam,begitu pekat. Begitulah syair pengelana tentang malam. Tak ada sesuatu yang membuatku harus bertanya bagaimana dunia tanpa diriku. Semua sudah ditakdirkan sedemikian sempurna. Aku yang hanya menjelajah dunia berbalut cahaya yang ku pendarkan tanpa harus melintas di malam dingin gelap dan pekat.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Sesosok bintang telah memilih pergi dari duniaku yang benderang. Tapi jeritnya mengungkap ia terjebak dalam senja yang tak berakhir. Terjebak dalam bayangku yang konon tak bisa terhapus. Aku tak tahu kenapa ia pergi. Mungkin cahayaku yang terlalu membakar telah membuatnya terluka atau cahayaku yang benderang tak mampu ia lukis dalam mata hidupnya?
Entah!!! Bintang, kau tahu kepergianmu dari siang membuatku sama tercabiknya denganmu? Mulanya aku tertatih dalam kesendirian dan pencarian yang tak kunjung membawaku menemukan titik sinarmu, tapi aku sadar dunia ini tiada benderang tanpa diriku. Aku melupakanmu dalam kala yang yang tak terhitung dan membenamkan semua rasa dalam gelapnya dasar samudra. Kita hanya tinggal cerita. Matahari hanya bersinar sendiri tanpa ada bintang lagi. Inilah aku kini.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
EPISODE: DESAHAN ANGIN DAN ANGKASA
ANGIN:
Aku yang menari dalam dunia yang tak berkesudahan. Menjelajah dunia yang berbalut cahaya dan pekat dalam gulita. Akulah sang pengelana jaman tak tergantikan. Tawa,desah,lirih.duka dan suka cita dunia,semua ku tahu. Perjalanan sepanjang masa menuntunku pada setitik cahaya bintang dalam penantian yang menurutku penuh kemustahilan.
Penghuni bumi tahu kemana aku berhembus,tapi tak seorang pun mampu mendekapku, walau hanya sejenak. Bintang yang ku temui di suatu senja berkata kalau matahari di matanya tak ubahnya bagai diriku. Rintihan pilunya senandung jiwa yang tak pernah ku dengar sebelumnya. Getir. Sosok dalam kerinduan serupa jerit nestapa dalam buaian ombak samudra.
Telah ku lantunkan irama penantian itu kepada tiap titik dunia yang ku lalui. Apakah mereka mengerti kegelisahan sang bintang? Entah.
Sosok dalam angannya kini tahu apa yang ia rasakan, meski bintang tak ingin matahari tahu apa yang ia rasakan. Dunia memang aneh, pantaskah sebuah penantian dirahasiakan?

ANGKASA:
Aku yang mempertemukan mereka sesuai jalan takdir yang telah tertulis. Tak seorang berhak untuk menolaknya. Tidak juga mereka. Meski mereka penghuni langitku yang tak bertepi. Mereka harusdipertemukan karena karma. Dan sayangnya, karena karma pula, -ketika suatu rasa telah tumbuh dan mengakar pada salah satunya- mereka harus aku pisahkan. Aku lupa apakah maahari yang ku bawa pergi dari sisi bintang atau bintang yang ku tarik dari istana siang yang gemerlap. Bintang tak pernah menulis syair tentang diriku, aku bukan jejak dalam syair kehidupannya. Syair hidupnya hanya bercerita tentang siang, tentang cahaya dan tentang matahari, bukan tentang aku.
Pernah ku sampaikan agar ia hidup dalam malam, tapi ia pilu. Ia tak terbiasa dengan malam yang pekat,gelap,dan dingin. Ku katakan bahwa malamnya tak akan segelap yang ia bayangkan. Akan ada candra yang memberinya sinar yang menyejukkan. Tapi ia menolak. Sinar sang candra hanya semu, hanya pantulan sang surya yang semakin membuatnya tak pernah terlepas dari jerat sang raja siang. Ia benar-benar tak bisa lepas. Ketika ku perintahkan agar ia hidup dalam kesejukan sinar sang candra, ia hanya tersenyum skeptic, dan tertunduk. Sekali lagi, surya tak akan tergantikan oleh candra.
Aku tak pernah ragu untuk menjalankan takdir yang harus ku lakukan untuk titik-titik cahaya dalam langitku. Tapi, tegakah aku membiarkan suatu rasa harus terkubur begitu saja? Jangan tanyakan itu padaku. Aku tak tahu harus menjawab apa.

EPISODE : TANTANGAN BINTANG PADA ANGKASA
Aku tak tahu mengapa aku diperintahkan untuk hidup bersama sang candra. Bulan bukan apa-apa dibandingkan surya. Ia hanya memantulkan sinar dari diwakara. Ketika kelak surya tak lagi berpijar dan menjelma menjadi katai putih yang menjadi raksasa angkasa, bulan pun tak akan bersinar. Bukankah kelak ketika matahari mati,bulan pun kan mati? Apa jadinya duniaku? Kalau aku hanya melihat pantulan sinar surya, bukankah itu sama artinya aku tak terlepas darinya? Buat apa angkasa mengirimku pada malam yang sunyi,-bahkan sempat terperangkap pada senja yang menjelma pada keabadian sesaat- jika aku tak kunjung terlepas dari matahari? Bukankah lebih baik aku berada pada pagi yang hangat,bertabur sinar matahari pagi, dan bertahta bersama matahari dalam istana cahaya yang benderang?
Sadarkah engkau wahai angkasa?
Aku tak henti melantunkan lirih. Semoga angin menyampaikan alur cerita tentang ratapku pada matahari. Aku ragu matahari akan datang pada malam yang tak pernah ia jamah, apalagi hanya untuk diriku,bintang yang tersesat dalam kegelapan.
Ketika asaku kian merapuh, cahayaku kian meredup, aku ingin bersandar dalan cahaya yang membuatku tak takut menghadapi ledakan jiwa dalam sebuah supernova. Akankah cahaya itu datang sebelum asaku menghilang?
Adakan cahaya itu datang sebelum matahari? Ataukah matahari yang akan datang sebelum aku menjadi puing di angkasa? Entah. Aku tak berani berharap terlalu banyak.

EPISODE: KEMELUT JIWA SANG CAHAYA
Aku dan dirinya sama-sama makhluk cahaya yang dititiskan di angkasa. Tapi takdir menuntunku menjadi cahaya yang lebih gemerlap untuk dunia. Sedang dia cuma setitik cahaya mungil dalam kedamaian yang dinanti dalam syair rasa yang tak terbatas oleh para insan dalam nada cinta yang terbias.
Ketika lirihnya sampai disini oleh perjalanan angin, aku tak tahu apa yang ada dibenaknya kini. Dalam perjumpaan terakhir, ketika sinar kami berpadu dalam hari menjelang senja, senandung jiwanya melantunkan nada agar cahaya kami tak terikat, tak berpadu, keterikatan akan membuat kami lemah dan hanya menjadi kepingan kecil saat tak ada lagi sisa cahaya dalam jiwa.
Ketika kelak jiwanya menjadi menjadi lubang hitam dalam suatu supernova, ia tak mau aku tahu bahwa biasan cahayaku masih dia nantikan. Ia hanya berkata tak mau melihatku meledak dan menjadi katai putih. Ia pergi dan cahaya kami tak pernah berpadu lagi. Cahaya kami menjadi dua kutub yang sama, tolak menolak dalam gravitasi angkasa.
Kini, lirihnya membuatku bimbang. Akankah aku menjemputnya dalam lorong waktu yang terlarang untuk ku jamah? Ketika aku merasa cahayaku terlalu renta dan telah ada bintang lain yang bersandar dan berpadu dengan cahayaku, akankah aku menelusuri malam untuknya? Akankah cahayaku kembali berpadu dengannya sebelum diriku menjadi white dwarf? Entah.
Angin,angkasa, atau siapa saja yang mendengar lantunan ini,hentikan sesaat putaran waktu, ijinkan aku berpikir tentang ini semua.fantasy

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Halaman

Kategori

Kalender

Juni 2009
S S R K J S M
    Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.